MATERI SENI RUPA 2D SMA X-XII

Disusun oleh: Ilen Jatmika,S.Fil.I 

PENDAHULUAN

    Sebelum membahas seni rupa lebih dalam, ada hal yang sangat penting yang saya harus ingatkan kembali tentang beberapa hal yang berkaitan dengan dasar pengetahuan seni sehingga, mudah bagi kita semua memahami apa itu seni dan apa saja bentuk-bentuk beserta perkembangannya.

    Seni adalah semua hasil karya tanpa terkecuali, yang memiliki nilai estetik berupa bentuk, suara, gerak dan perubahan.

     Adapun karya adalah suatu kegiatan atau proses dalam menghasilkan sesuatu yang memiliki manfaat dan fungsi.

    Nilai estetik pada seni memiliki dua sifat yaitu; objektif dan subjektif. Yang dimaksud sifat objektif pada nilai estetik adalah estetik yang memiliki sifat relatif, ini terdapat pada semua karya yang diciptakan oleh manusia. Sedangkan sifat subjektik pada nilai estetik adalah estetik yang memiliki sifat mutlak, ini terdapat pada semua karya ciptaan Yang Maha Pencipta.

    Dari definisi seni yang telah dipaparkan diatas maka, diketahui bahwa seni di alam semesta ini berdasarkan nilai estetiknya ada empat macam yaitu; seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater/ drama. Dan disini saya akan fokus membahas beberapa hal yang berkaitan dengan seni rupa saja.

 

 

I.     SENI RUPA 2D

 

A.  Definisi

Seni rupa adalah karya seni yang memiliki unsur bentuk atau rupa. Berdasarkan dimensinya seni rupa terbagi menjadi tiga yaitu; seni rupa dua dimensi dan seni rupa tiga dimensi dan seni rupa multidimensi.

 

Seni rupa dua dimensi adalah karya seni rupa yang memiliki dua sisi saja, yaitu sisi panjang dan sisi lebar sehingga tidak memiliki ruang. Ciri-ciri seni rupa dua dimensi adalah sebagai berikut:

1.    Dapat dilihat dari satu arah

2.    Dibuat pada bidang datar

3.    Mempunyai ukuran panjang dan lebar

4.    Memiliki dimensi luas

 

Seni rupa tiga dimensi adalah karya seni rupa yang memiliki dimensi ruang yaitu panjang, lebar dan tinggi dan seni ini bisa dinikmati lebih dari satu sisi. Ciri-ciri seni rupa tiga dimensi adalah sebagai berikut:

1.    Mempunyai panjang, lebar dan tinggi

2.    Dapat dinikmati dari berbagai sudut pandang

3.    Menempati ruang

 

Sedangkan seni rupa multi dimensi adalah karya seni yang memiliki dimensi luas, volume, gerak dan suara.

 

Berdasarkan fungsinya, seni rupa dibagi menjadi dua yaitu; seni rupa murni (fine art) dan seni rupa terapan (applied art). Seni rupa murni adalah karya seni rupa yang diciptakan untuk tujuan ekspresi diri dan kepuasan batin sang seniman. Sedangkan seni rupa terapan adalah karya seni rupa yang diciptakan utnuk tujuan keperluan yang lebih praktis dan tepat guna. Seni rupa terapan lebih menonjolkan fungsi atau kegunaan tanpa menghapus sisi estetiknya.

 

Dan dalam pembahasan seni rupa kali ini, saya akan coba fokus terlebih dahulu dengan beberapa hal yang berkaitan dengan seni rupa dua dimensi saja.

 

B.  Unsur-unsur dalam seni rupa dua dimensi

Unsur-unsur seni dua dimensi rupa yang harus diperhatikan dalam menganalisis suatu karya adalah sebagai berikut:

 

1.    Titik

Titik adalah unsur seni rupa dua dimensi yang paling sederhana. Teknik lukisan yang menggunakan kombinasi berbagi variasi ukuran dan warna titik kikenal dengan sebutan pointilisme.

 

2.    Garis

Garis terbentuk melalui goresan atau tarikan dari titik yang satu ke titik yang lain. Menurut jenisnya, garis dapat dibedakan menjadi garis lurus (berkesan tegak dan keras), lengkung (berkesan lembut dan lentur), panjang, pendek, horizontal, vertika, diagonal, berombak, putus-putus, patah-patah (berkesan kaku), spiral dan sebagainya. Menurut wujudnya, garis dibedakan menjadi dua bentuk:

1)      Garis nyata; yaitu garis yang dihasilkan dari coretan atau goresan lengkung

2)      Garis semu; yaitu garis yang muncul karena adanya kesan seimbang pada bidang, warna atau ruang.

 

3.    Bidang

Bidang merupakan permukaan yang datar. Suatu garis yang dipertemukan ujung pangkalnya akan membentuk suatu bidang, baik bidang geometrik (segitiga, persegi dan persegi panjang) atau bidang organik (lengkung bebas).

 

4.    Bentuk

Bentuk terjadi melalui penggabungan unsur bidang. Bentuk juga dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu;

1)      Geometris (kubistis dan silindris)

2)      Nongeometris (bentuk manusia, tumbuhan dan hewan)

 

5.    Warna

Warna adalah kesan yang timbul oleh pantulan cahaya pada mata. Ada tiga warna dasar/ primer yaitu; merah, kuning dan biru. Jika ketiga warna tersebut dicampur maka akan menghasilkan warna yang baru dan warna-warna hasil campuran warna primer disebut warna skunder dan tersier. Warna gelap cendrung memberikan kesan berat sebaliknya, warna terang memberikan kesan ringan.

 

6.    Tekstur

Tekstur adalah permukaan satu benda. Tekstur dibedakan menjadi dua yaitu tekstur nyata dan tekstur semu. Tekstur nyata adalah nilai raba yang sama antara penglihatan dan rabaan. Adapun tekstur semu adalah kesan yang berbeda antara penglihatan dan perabaan.

 

7.    Ruang

Ruang terbentuk atas dua atau beberapa dinding yang berjarak. Ruang yang diwujudkan dalam gambar dinamakan ruang khayalan (imajiner). Kesan ruang tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan perspektif, gelap dan terang pada warna.

 

8.    Gelap terang

Gelap terang dalam seni rupa dua dimensi merupakan akibat dari adanya cahaya. Cahya yang dapat memengaruhi karya seni rupa dibagi menjadi dua, yaitu cahaya alamiah dan buatan.

 

C.  Prinsip-prinsip dalam seni rupa dua dimensi

Unsur-unsur seni rupa dua dimensi yang harus diperhatikan dalam menganalisis suatu karya adalah sebagai berikut:

 

1.    Kesatuan

Kesatuan merupakan hubungan keterkaitan atau keterpaduan anatara unsur-unsur seni rupa dua diemnsi. Kesatuan akan tercapai dengan adanya keselarasan, kesimbangan, proporsi dan ritme.

 

2.    Keseimbangan

Keseimbangan merupakan kesan yang didapat dari suatu susunan yang diatur sedemikaian rupa, sehingga terdapat daya tarikyang sama pada tiap-tiap sisi.

 

3.    Irama

Irama adalah pengulangan satu atau beberapa unsur secara teratur dan terus menerus berupa susunan garis, bentuk atau variasi warna. Terciptanya irama dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:

1)      Pengulangan unsur

2)      Perbedaan ukuran

3)      Perbedaan jarak

 

4.    Penekanan/ aksen

Penekanan adalah upaya menampilkan bagian tertentu dari karya seni rupa, sehingga menarik perhatian dengan cara pengaturan posisi, perbedaan ukuran, perbedaan warna, atau unsur lain dan pengaturan arah unsur-unsur.

 

5.    Proporsi

Proporsi atau ukuran perbangingan adalah upaya pengaturan yang berkenaan dengan ukuran antara bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam bentuk yang serasi seperti, besar kecil, luas sempit, panjang pendek atau tinggi rendah.

 

6.    Keselarasan/ harmoni

Harmoni adalah hubungan kedekatan unsur-unsur yang berbeda, baik bentuk maupun warna untuk menciptakan keselarasan.

 

D.  Teknik-teknik dan bahan dalam seni rupa dua dimensi

 

Teknik yang dapat digunakan dalam karya seni rupa dua dimensi dapat dibedakan menjadi dua yaitu; teknik basah dan teknik kering. Teknik basah terdiri dari akuarel (transparan), plakat, spray, pointilis, tempera dan fresco. Adapun teknik kering terdiri atas arsir, dusel, siluet, linier, pointilis dan scrabbing/ graffito (krayon).

 

Adapun bahan yan bisa digunakan dalam membyat karya seni rupa terbagi menjadi dua yaitu; bahan basah dan bahan kering. Bahan basah seperti cat air, cat minyak, akrilik, dan cat semprot. Adapun bahan kering seperti pensil, spidol, krayon, konote dan pastel.

 

E.  Jenis karya seni rupa dua dimensi

Berdasarkan jenisnya, karya seni rupa dibagi menjadi dua yaitu; seni rupa dua dimensi murni seperti:

a.    Lukisan

Lukisan adalah karya seni dua dimensi yang dibuat dengan mengoleskan cat dan menggunakan alat lukis.

b.    Seni grafis

Karya seni dua dimensi yang pembuatannya menggunakan teknik vetak pada kancas atau media tradisional dan kontemporer. Perkembangan zaman yang semakin maju menyebabkan seni grafis mulai menggunakan metode digital.

Dan seni rupa dua dimensi terapan seperti; desain dan kriya.

 

F.   Gaya seni rupa dua dimensi

Dalam sebuah karya seni rupa dua dimensi, objek merupakan wujud atau visualisasi dari bentuk yang akan ditampilkan. Objek ini dijadikan sebagai contoh atau dasar bagi karya seni yang akan diciptakan. Dalam seni rupa modern, corak yang digunakan sebagai objek karya seni rupa dua dimensi telah mengalami kemajuan, perubahan dan pembaruan. Secara umum, terdapat tiga macam gaya seni rupa dua dimensi yang dipakai, yaitu gaya representatif, deformatif dan representatif.

 

1.    Gaya representatif (nyata)

Kata representative mengandung pengertian nyata yaitu, melukiskan kembali bentuk-bentuk yang sudah ada di alam dalam keadaan yang nyata. Aliran seni rupa dua dimensi yang termasuk dalam gaya representative adalah sebagai berikut:

 

a.    Romantisme

Aliran romantisme merupakan gaya seni rupa dua dimensi yang menonjolkan sis manusia yang memiliki pikiran, perasaan dan emosi, ciri-cirinya sebgai berikut:

1)   Mengandung cerita yang dahsyat dan emosional

2)   Penuh gerak dan dinamis

3)   Warna bersifat kontras dan meriah

4)   Pengaturan komposisi dinamis

5)   Mengandung kegetiran dan menyentuh perasaan

6)   Kedahsyatan melebihi kenyataan

 

b.    Naturalisme

Aliran naturalisme sangat menonjolkankeindahan alam. Karya yang diciptakan terinspirasi dan diciptakan persis dengan alam yang objeknya diperindah dengan cara berlebihan, ciri-ciri aliran ini adalah:

1)   Wujudnya sama persis dengan yang dilihat oleh mata

2)   Prinsip-prinsip seni rupa digambarkan dengan tepat sesuai pemandangan sebenarnya

 

c.     Realisme

Aliran realisme adalah aliran seni rupa dua dimensi yang megambarkan keadaan nyat yang benar-benar ada. Aliran ini lebih menonjolkan suasana dibandingkan objek dari kenyataan sesungguhnya.

 

2.    Gaya deformatif

Kata deformatif berasal dari kata deformasi yang berarti perubahan bentuk.  Aliran ini mengubah bentuk asli objek alam sehingga menghasilkan bentuk baru, tetapi masih menyerupai bentuk aslinya. Gaya seni rupa yang tergolong deformasi anatara lain:

 

a.      Surealisme

Aliran seni rupa dua dimensi yang menonjolkan kebebasan kreativitas sehingga melampaui batas logika. Ciri khas aliran ini adalah; keanehan, control dibawah sadar dan fantastis.

 

b.      Dadaisme

Dadaisme adalah aliran yang tidak ingin membuat suatu karya indah secara fisik, namun bermuatan kritik tajam, pesan perdamaian atau pesan sosial lain dengan cara membuat sindiran tidak langsung, hingga ke ungkapan langsung yang provokatif terhadap kaum-kaum yang dianggap memberikan pengaruh negatif pada kelangsungan hidup manusia.

 

c.       Impresionisme

Impresionisme merupakan aliran seni rupa dua dimensi yang lebih mengutamakan kesan selintas pada objek yang aka dilukiskan. Ciri aliran ini adalah; objek yang digambarkan tidak mendetik atau agak kabur.

 

d.      Ekspresionisme

Eksprsionisme adalah aliran seni rupa dua dimensi yang lebih mengutamakan curahan batin senimannya secara bebas, baik dalam batin, imajenasi, maupun perasaannya. Ciri khas aliran ini adalah tema tentang; kekerasan, kengerian, kemiskinan, kesedihan dan tingkah manusia.

 

e.       Kubisme

Kubisme adalah aliran seni rupa dua dimensi yang cenderung menunjuka usaha abstraksi objek ke dalam bentuk geometri tertentu untuk mendapatkan sensai dan nilai seni. Ciri utama aliran ini; gambaran yang bentuknya menyerupai bidang-bidang.

 

3.    Gaya nonrepresentatif

Nonrepresentatif dapat diartikan sebagai suatu bentuk yang sukar dikenali dan gaya ini disebut juga dengan gaya abstrak, yaitu suatu gaya yang lebih sederhana, bahkan bentuknya sama sekali meninggalkan bentuk alam. Gaya ini dibedakan menjadi dua macam; abstrak ekspresionis dan abstrak murni.

Bentuk abstrak murni adalah hasil karya seni rupa dua dimensi yang sering disebut dengan bentuk geometris atau bentuk alam benda.

Abstrak ekspresionisme dapat dikatakan sebagai aliran yang pengekspresian secara otomatis keadaan bawah sadar dengan menciptakan berbagai bentuk yang terjadi dengan sendirinya karena cat yang digoreskan di atas kanvas.

 

G. Tema seni rupa dua dimensi

Banyak objek yang dapat diangkat untuk dijadikan tema seni rupa dua dimensi. Secara umum, ragam karya seni rupa dua dimensi dapat diwujudkan berdasarkan tema-tema berikut:

a)    Manusia dan dirinya sendiri

b)   Manusia dengan manusia lain

c)    Manusia dengan alam sekitarnya

d)   Manusia dan kegiatannya

e)    Manusia dengan khayalan

 

H.  Fungsi seni rupa dua dimensi

Fungsi seni rupa dua dimensi adalah sebagai berikut:

a.       Memuaskan batin seniman

b.      Memberikan keindahan yang dapat dinikmati secara luas dengan penilaian yang berbeda

c.       Menyampaikan nilai-nilai budaya dan ekspresi seniman

d.      Sebagai benda kebutuhan sehari-hari aau benda praktis

e.       Sebagai sarana ritual keagamaan

f.       Sebagai alat untuk mengenang suatu peristiwa tertentu

 

Fungsi seni juga dapat dikelompokan menjadi fungsi individu dan fungsi sosial:

 

1.      Fungsi individu

Fungsi individu adalah seni yang digunakan perorangan sebagi kebutuhan pribadi:

a)   Pemenuhan kebutuhan fisik

b)   Pemenuhan kebutuhan emosional

 

2.      Fungsi sosial

Fungsi sosial, seni dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutahan sosial seseorang. Terdapat beberapa macam fungsi seni sebagai fungsi sosial yaitu sebagai berikut:

a)   Fungsi religi/ keagamaan

b)   Fungsi pendidikan

c)   Fungsi komunikasi

d)  Fungsi rekreasi/ hiburan

e)   Fungsi artistik

f)    Fungsi guna

g)   Fungsi kesehatan

 

I.     Nilai estetis seni rupa

Nilai estetis dalam seni rupa dua dimensi dapat diartikan sebagai nilai yang menggambarkan adanya unsur keindahan dalam sebuah karya seni rupa. Nilai ini dipengaruhi oleh keharmonisan dan keselarasan penataan unsur-unsur rupanya. Terdapat dua macam nilai estetis dalam sni rupa dua dimensi, yaitu sebagai berikut:

 

a.      Nilai intrinsik (objektif)

Nilai objektif khusus mengkaji gejala visual karya seni rupa dua dimensi dengan menggunakan pendekatan formalis. Pendekatan formalis adalah aktivitas yang mendasarkan kriteria ekselensi seni pada kualitas integratif tatanan formal karya seni rupa dua dimensi yang mengutamakan relasi antar unsur-unsur visual yang terjalin padu dalam sebuah karya seni rupa dua dimensi. Nilai estetik objektif menganggap keindahan karya seni rupa dari wujud karya seni itu sendiri, yaitu keindahan tampak kasat mata.

 

b.      Nilai ekstrinsik (subjektif)

Nilai estertis subjektif menganggap keindahan tidak hanya pada unsur-unsur fisik yang ditangkap oleh mata secara visula, tetapi juga ditentukan oleh selera penikmatnya atau orang yang melihatnya. Nilai subjektif menelusuri nilai estetis dengan menjawab pertanyaan;

1)   Apakah karya ini memukau dan hadir dalam kehidupan pribadi saya?

2)   Efek apakah yang diberikan kepada saya? Jika memang, sejauh mana?

Dan dengan menggunakan pendekatan impresionis yaitu menilai karya seni berdasarkan pengalaman mengamati dan menikmati karya seni dari hasil pengembaran imaji, emosi, suasana kejiwaan.

 

J.    Modifikasi objek karya seni rupa dua dimensi

Modifikasi digunakan untuk merespon sebuah karya seni rupa dua dimensi yang memunculkan sebuah bentuk baru yang tidak sama sekali menghilangkan unsur alam, masih tetap ada nuansa alam, hanya saja ada sedikit perubahan, penambahan, pengurangan dan kombinasi. Ada beberapa konsep modifikasi dalam karya seni rupa dua dimensi yaitu sebagai berikut:

 

1.    Minimalisasi (disederhanakan)

Objek dalam karya seni ini memang masih dapat terbaca atau terlihat bentuknya, walaupun tidak sempurna. Teknik ini dapat dilihat  pada karya lukis yang cenderung naif dan pop art, tidak ditemukan realis yang benar-benar realistik dan tanpa kedalaman.

 

2.    Deformasi (diubah bentuknya)

Bentuk karya deformasi bisa didapatkan pada aliran seni surealisme dan dadaisme dimana onsep seni rupa yang baru ini lebih mengeksplorasii tema-tema seperti, perang, teknologi, sosial, kemanusiaan, masa depan atau bahkan psikologis (alam bawah sadar).

 

3.    Destruksi (dihancurkan)

Destruksi merupakana puncak gubahan dalam seni rupa, dimana bentuk alam serasa sudah habis untuk dieksporasi. Bentuk seni ini lebih menekankan pada pola destruksi, dapat dijumpai pada sebagian lukisan surealisme dan kubisme.

 

4.    Distorsi (dilebih-lebihkan)

Pola ini sebagai respons dari kejenuhan pada bentuk-bentuk realistik. Objek yang terdistorsi dapat berupa bentuk objek yang dibesar-besarkan, dipanjangkan, dilebarkan dan sebagainya jadi, objek itu tidak lagi realistik, walaupun bentuk asli masih tetap terlihat.

 

5.    Abstraksi (dihilangkan)

Pola abstraksi dalam seni rupa dua dimensi merupakan puncak dalam rangkaian ide, dalam mengeksplorasi suatu objek. Dimana objek alam dirasa sudah terlalu biasa, sehingga muncullah ide untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Pola dalam seni rupa abstraksi adalah menghilangkan bentuk secara total, sehingga yang ada hanyalah tanpa objek atau wujud yang real.

 

II.     Pameran Karya Seni Rupa 2D

 

Pameran karya seni rupa adalah suatu aktivitas untuk menampilkan dan mengenalkan hasil karya seni rupa dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi kepada masyarakat luas.

 

A.  Klasifikasi Pameran

Secara garis besar, pameran dibagi menjadi dua jenis yaitu pameran umum dan pameran khusus:

a.    Pameran Umum

Pameran umum adalah pameran yang diadakan oleh masyarakat luas  dan terbuka bagi siapa saja baik itu seniman, pengusaha atau instansi dll.

b.    Pameran Khusus

Pameran khusus adalah pameran yang diadakan oleh kalangan tertentu dan untuk orang tertentu misalnya, sekolah mengadakan pameran. Kegiatan ini hanya dapat diikuti oleh para siswa sekolah tersebut saja.

 

Berdasarkan waktu penyelenggaraannya, pameran dibagi menjadi 3 jenis, yaitu pameran periodik, pameran insidental dan pameran permanen:

a.    Pameran periodik

Pameran periodik adalah pameran yang diselenggarakan secara berkala pada waktu-waktu tertentu.

b.    Pameran insidental

Pameran insidental adalah pameran yang diselenggarakan pada saat diperlukan saja.

c.     Pameran permanen

Pameran permanen adalah pameran yang diselenggarakan pada tempat yang tetap dan dibuka hampir setiap hari pada jam-jam tertentu.

 

Pameran berdasarkan pada jumlah peserta yang tampil dibagi menjadi dua jenis, yaitu pameran perorangan dan pameran kelompok:

a.    Pameran Perorangan

Pameran perorangan disebut juga pameran tunggal adalah pameran yang diselenggarakan oleh perorangan dan biasanya hanya terdapat satu jenis karya seni.

b.    Pameran Kelompok

Pameran kelompok merupakan pamerarn yang diselenggarakan oleh sebuah kelompok atau komunitas dan menampilkan banyak karya seni rupa dari berbagai kalangan seniman.

 

Pameran dilihat dari ragam jenis karya yang ditampilkan dibagi menjadi dua yaitu, pameran homogen dan pameran heterogen:

a.    Pameran Homogen

Pameran homogen adalah pameran yang hanya menunjukan atau menampilkan satu macam karya seni rupa.

b.    Pameran Heterogen

Pameran heterogen adalah pameran yang menampilkan bergam jenis karya seni rupa.

 

B.   Fungsi Pameran

Pameran seni rupa pada hakikatnya berfungsi untuk membangkitkan apresiasi seni pada masyarakat disamping sebagai media komunikasi antara seniman dengan penikmatnya (apresiator) juga merupakan wahana untuk menumbuh kembangkan apresiasi masyarakat terhadap seni.

 

a.    Fungsi Apresiasi

Dengan mengadakan kegiatan pameran diharapkan membangkitkan sikap menghargai terhadap karya seni.

b.    Fungsi Edukasi

Kegiatan pameran karya seni rupa diharapkan dapat memberikan nilai-nilai positif dan ajaran terhadap masyarakat, terutama apresiator. Misalnya nilai tentang keindahan, nilai sejarah dan nilai budaya.

c.     Fungsi Rekreasi

Kegiatan pameran karya seni rupa membangkitkan rasa bahagia sehingga dapat memberikan nilai psikis dan spiritual, terutama hiburan.

d.    Fungsi Prestasi

Fungsi prestasi dimaksudkan agar dengan kegiatan pameran seni rupa akan dapat diketahui bakat seseorang dalam bidang seni. Menurut Nurhadiat (1996: 125) fungsi pameran ada lima yaitu:

1)    Meningkatkan apresiasi seni warga sekolah

2)    Membangkitkan motivasi siswa berkarya seni

3)    Memberikan penyegaran dari kejenuhan belajar dikelas

4)    Memberikan motivasi  berkarya visual lewat karya seni

5)    Belajar berorganisasi dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pameran

 

C.  Tujuan & Manfaat Pameran Karya Seni

Adapun tujuan dan manfaat pameran karya seni rupa adalah sebagai berikut:

 

a.    Tujuan Pameran Karya Seni Rupa

Mengunjungi pameran karya seni rupa dapat menambah pengetahuan, meningkatkan apresiasi terhadap seni, mempertajam imaginasi dan intuisi seseorang, serta memperkenalan karya-karya kepada masyarakat.

Sedangkan tujuan utama pameran disekolah yaitu mendapatkan apresiasi dan tanggapan dari pengungjung dalam rangka meningkatkan kualitas karya berikutnya dan mengembangkan wawasan dalam bidang seni rupa.

Dan tujuan pameran seni rupa secara garis besar bisa dikelompokan sebagai berikut:

 

1)    Tujuan Sosial

Karya seni rupa yang dipamerkan dipergunakan untuk kepentingan sosial.

2)    Tujuan Komersial

Kegiatan ini diperuntukan menghasilkan profit atau keuntungan, terutama bagi seniman dan penyelenggara pameran.

3)    Tujuan Kemanusiaan

Kepentingan kegiatan ini ditunjukan untuk pelestarian, pembinaa nilai-nilai dan pengembangan hasil karya seni budaya yang dimiliki oleh masyarakat. Misalnya untuk disumba gkan ke panti asuhan, masyarakat tidak mampu atau korban bencana alam.

 

b.    Manfaat Pameran Karya Seni Rupa

Menurut pendapat Rasjoyo (Cahyono, 1994), manfaat pameran bagi siswa di sekolah diantaranya adalah sebagai berikut:

1)     Menumbuhkan dan menambah kemampuan siswa dalam memberi apresiasi terhadap karya orang lain

2)     Menambah wawasan dan kemampuan dalam memberikan evaluasi karya secara lebih objektif

3)     Melatih kerja kelompok

4)     Mempertebal pengalaman sosial

5)     Melatih siswa untuk bertanggung jawab dan bersikap mandiri

6)     Melatih siswa untuk membuat suatu perencanaan kerja dan melaksanakan apa yang telah direncanakan

7)     Sarana penyegaran bagi siswa dari kejenuhan belajar dikelas.

 

D.  Penyelenggaraan Pameran Karya Seni Rupa

Pengetahuan tentang manajemene pelaksanaan pameran diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan pameran yang efektif dan efisien. Secara umum, manajemen penyelenggaraan kegiatan pameran terdiri atas:

 

a.    Proses perencanaan (planing)

Dalam perencanaan pameran, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

1)    Tujuan

Pameran dapat bertujuan untuk menggalang dana yang bersifat komersial, sosial atau kemanusiaan

2)    Tema dan Materi Pameran

Perlu ditentukan tema dan materi pameran yang akan diselenggarakan. Tema pameran dapat diambil dari isu-isu yang sedang banyak berkembang dalam masyarakat seputar kebudayaan.

3)    Program Kegiatan Pameran

Program kerja disusun dalam bentuk proposal. Susunan proposal mencakup judul kegiatan, latar belakang,, tema nama kegiatan, landasan/ dasar penyelenggaraan, maksud dan tujuan, susunan panitia, jadwal pelaksanaan (waktu & tempat),jenis kegiatan, ketentuan sponsorship, peserta, sasaran, estimasi anggaran dana dan penutup.

4)    Waktu dan Tempat Kegiatan Pameran

Disesuaikan dengan tujuan pameran serta situasi dan kondisi wilayah atau daerah setempat.

 

b.   Pengorganisasian (organizing)

Mengorganisasi kegiatan pameran seni rupa adalah melakukan pengelolaan sumberdaya manusia berdasarkan struktur organisasinya. Pembagian tugas pada struktur organisasi disesuaikan dengan kedudukan dan fungsinya. Pengelolaan kegiatan pameran dimulai dengan pembentukan panitia dan penyusunan rencana kerja:

1)    Membentuk Panitia

a)   Ketua

b)   Wakil ketua

c)   Sekretaris

d)  Bendahara

e)   Seksi Kesekretariatan

f)    Seksi Usaha

g)   Seksi Publikasi & Dokumentasi

h)   Seksi Dekorasi & penataan Ruang

i)     Seksi Stan

j)     Seksi Pengumpulan & Seleksi Karya

k)   Seksi Perlengkapan

l)     Seksi Keamanan

m) Seksi Konsumsi

2)    Menyusun Rencana Kerja atau Agenda Kegiatan

Agenda merupakan rincian waktu pelaksanaan pameran agar semua pihak dapat mengetahui dengan jelas waktu dan bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan.

3)    Memilih Karya Seni Rupa

Pemilihan karya seni rupa yang akan dipamerkan terdiri atau dua kegiatan, yaitu mendaftar hasil karya seni rupa dan menyusun kelengkapan pameran seni rupa.

a)    Mendaftar Karya Seni Rupa

Membuat daftar karya seni rupa dilakukan berdasarkan jumlah dan tema pameran

b)   Menyusun Kelengkapan dan Penataan Ruang Pameran Seni Rupa

Kelengkapan pameran seni rupa yang perlu disiapkan antara lain sebagai berikut:

(1)     Papan pameran/ sketsel/ panil atau dinding untuk memajang karya 2D

(2)     Level/ papan untuk meletakan karya seni 3D

(3)     Tali/ kawat untuk memasang karya seni 2D

(4)     Meja dan kursi (untuk panitia, tamu undangan dan sebagai meja display karya 3D)

(5)     Dekorasi ruangan dan tata lampu atau pencahayaan

(6)     Katalog, brosur, buku tamu dan buku pesan kesan

(7)     Sound system

 

c.    Pelaksanaan (acting)

Pameran diselenggarakan setelah semua persiapan telah rampung dikerjakan. Kerja sama yang baik antara para anggota panitia akan menunjang keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pameran karya seni rupa. Pelaksanaan pameran dimulai dari:

(1)   Pembukaan Pameran

Acara pembukaan pameran diisi dengan sambutan ketua pelaksana, pembimbing dan pihak-pihak terkait.

 

(2)   Penyambutan Tamu & Pengunjung

Seksi stan meminta tamu dan pengunjung untuk mengisi buku tamu, membagikan katalog dan menyuguhkan jamuan.

 

(3)   Memandu Pengunjung

Seksi stan juga bertugas memandu, mengarahkan dan memberikan penjelasan kepada pengunjung seputar karya seni ruap yang dipamerkan.

 

(4)   Mengamati Situasi & Kondisi Pameran

Panitia penyelenggara harus selalu mengamati situasi dan kondisi selama pameran berlangsung. Seksi keamanan mengambil peran yang penting dalam menjaga ketertiban dan keamanan pengunjung

 

(5)   Mendokumentasikan Kegiatan Pameran

Mendokumentasikan semua kegiatan pameran merupakan tugas seksi dokumentasi.

 

d.   Pengendalian (controlling)

Pelaksanaan pameran seni rupa akan berjalan lancar apabila dilakukan pengawasan mulai dari awal hingga akhir kegiatan maka dari itu perlu pengontrolan sebagai berikut:

(1)   Organisasi Penyelenggara

Yang termasuk dalam penilaian organisasi penyelenggara adalah menguraikan poka atau tata kerja penyelenggara pameran seni rupa baik dari perencanaan, pengorganisasian, maupun pnyelenggaraan.

(2)   Kualitas Karya yang Dipamerkan

Yang termasuk dalam penilaian kualitas karya adalah menguraikan kelebihan dan kekurangan karya seni.

 

E.  Kritik Karya Seni Rupa

Kritik seni adalah kegiatan menanggapi suatu karya seni rupa untuk menunjukan kelebihan dan kekurangannya. Apresiasi atau mengapresiasi karya seni berarti memahami sepenuhnya seluk-beluk karya serta peka terhadap segi estetik karya seni. Kegiatan ini ditujukan untuk memahami berbagai hasil karya seni dengan berbagai permasalahannya serta menjadi lebih sensitif dan lebih peka.

Kegiatan apresiasi memiliki dua fungsi yaitu:

1)   Memupuk dan meningkatkan kecintaan terhadap karya seni

2)   Penikmatan, penilaian, hiburan, empati dan menghargai sebuah budaya.

 

Kritik seni pada dasarnya adalah kegiatan menanggapi hasil karya seni. Perbedaannya hanya pada fokus dari kritik seni yang bertujuan untuk menilai dan menunjukan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni dan juga kualitas karya seni.

 

1.    Klasifikasi Kritik Karya Seni Rupa

Menurut Feldman (1967), berdasarkan pendekatannya, terdapat empat jenis kritik karya seni rupa yaitu: kritik jurnalistik, pedagogik, ilmiah dan populer.

 

a.    Jurnalistik

Kritik seni yang penilaian atau hasil tanggapannya disampaikan secara terbuka kepada masyarakat melalui media massa.

 

b.    Populer

Jenis kritik seni yang tujuannya untuk konsumsi umum/ masyarakat. Kriktik ini bersifat umum atau lebih kepada pengenalan atau publikasi sebuah karya seni.

 

c.     Keilmuan

Bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan, kepekaan, serta kemampuan kritikus yang tinggi untuk menilai dan menanggapi sebuah karya seni. Hasil tanggapan melalui jenis kritik ini biasanya dijadikan sebagai referensi bagi para kolektor atau kurator institut seni seperti galeri seni, museum seni dan balai lelang.

 

d.    Pendidikan

Kritik seni ini bertujuan untuk mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik dan estetik subjek belajar seni.

 

e.     Formalistik

Kajian kritik ini ditujukan terhadap karya seni dalam hal susunan aspek-aspek formalnya atau yang berkaitan dengan unsur-unsur pembentukannya.

 

f.      Ekspresivistik

Dalam kritik ini, kritikus lebih cendrung menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang ingin disampaikan seniman melalui karya seninya yang mengaitkan dan menyesuaikan antara judul, isi, tema dan visualisasi objek yang ditampilkan dalam sebuah karya seni.

 

g.    Instrumentalistik

Kritik ini menilai karya seni berdasarkan kemampuannya dalam mencapai tujuan religius, moral, psikologis atau politik.

 

2.    Fungsi Kritik Karya Seni Rupa

Fungsi kritik karya seni rupa mempelajari kekurangan dan kelebihan dari suatu karya seni rupa dengan memberikan alasan berdasarkan berbagai analisis dan pengkajian serta mengetahui kualitas dari sebuah karya seni.

Kritik seni rupa membantu penikmat karya seni untuk memahami, menafsirkan dan menilai karya seni.

Tanggapan yang disampaikan oleh seorang kritikus ternama akan sangat mempengaruhi presepsi apresiator terhadap kualitas sebuah karya seni hingga dapat mempengaruhi penilaian harga dari karya tersebut.

 

3.    Penulis Kritik Karya Seni Rupa

Tahapan-tahapan kritik secara umum sebagai berikut.

a.    Deskripsi

Adalah tahapan dalam kritik untuk menemukan, mencatat dan mendeskripsikan segala sesuatu yang dilihat,  apa adanya dan tidak berusaha melakukan analisis atau mengambil kesimpulan.

 

b.   Analisi Formal

Adalah tahapan kritik untuk menelusuri sebuah karya seni berdasarkan struktur formal atau unsur-unsur pembentukannya.

 

c.    Interpretasi

Tahapan penafsiran makna sebuah karya seni yang meliputi tema yang digarap, simbol yang dihadirkan, dan masalah-masalah yang dikedepankan.

 

d.   Evaluasi atau Penilaian

Tahap evaluasi merupakan tahapan yang menjadi criri dari kritik karya seni, yaitu tahapan yang menentukan kualitas suatu karya seni bila dibandingkan dengan karya seni lain yang sejenis. Dalam mengevaluasi dan menilai secara kritis dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1)    Mengaitkan sebanyak-banyaknya karya yang dinilai dengan karya yang sejenis.

2)    Menetapkan tujuan atau fungsi karya yang ditelaah

3)    Menetapkan sejauh mana karya yang ditetapkan menyimpang dari yang tlah ada sebelumnya

4)    Menelaah karya yang dimaksud dari segi kebutuhan khusus dan segi pandang tertentu yang melatarbelakanginya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Squad dan Keluarga SMAID